Peran Sastra dalam Membangun Semangat Kebangsa(t)an Writer : -Mr.Snowden

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan saya membagikan satu artikel yang cukup menarik. Singkatnya, artikel tersebut berisi mengenai peranan sastra dalam membangun negara dan merevolusi mental anak bangsa. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa sastra telah seharusnya merasuk ke dalam rasa dan pikiran setiap anak bangsa. Pemaknaan sastra menjadi titik kunci dalam topik pembahasan dalam artikel tersebut.

Well, singkat cerita, satu diskusi menarik terjadi antara saya dan kawan saya. Kami mulai meng-iya-kan bahwa sastra memang sudah seharusnya menjadi salah satu faktor pembangkit semangat nasionalisme dan motor penggerak revolusi mental. Namun di satu titik kami berdua mulai menertawakan isi artikel tersebut. Kami berdua menyadari bahwa seberapa bagusnya pun pembahasan artikel (yang notabene mengutip satu acara seminar tersebut) apabila tidak diimbangi dengan kinerja nyata, maka hanya akan menjadi “bullshit”, omong kosong belaka, sama seperti seminar yang sudah sudah.

Okay, membahas sastra sebagai penumbuh semangat nasionalisme dan motor penggerak revolusi mental, maka tak afdhol apabila tidak mengetahui sastra dari dasar.

Nah, sebenarnya apa sih sastra itu?

Sastra atau Kesusastraan merupakan hasil cipta rasa dan karya dari seorang penulis.  Dimana sastra menjadi pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi objektif yang berarti menggambarkan kehidupan manusia dan keadaan lingkungan sekitar sebagaimana penulis tinggal (dan masyarakat). Dalam sastra tergambar cara pandang dan pemikiran penulis melalui bahasa sebagai medium penyampainya dan memiliki efek tertentu baik itu positif maupun negatif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan), sehingga sastra itu sendiri dapat memberikan pengaruh terhadap ruang lingkup tertentu.

Okay, dari definisi yang cukup panjang tersebut, saya dan kawan saya menggaris-bawahi tiga hal penting yang menjadi faktor utama dalam bidang kesusastraan.

Pertama, bahwa “sastra menjadi pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi objektif yang berarti menggambarkan kehidupan manusia dan keadaan lingkungan sekitar sebagaimana penulis tinggal (dan masyarakat)”. Di bagian ini disebutkan dengan jelas bahwa sastra adalah manifestasi OBJEKTIF yang menggambarkan kondisi sekitar penulis. Di sini memuat satu sifat sastra yang paling penting.

Bahwa sastra sudah seharusnya menjadi karya yang objektif tidak merujuk, menyindir, merusak, dan ditujukan kepada satu orang tertentu dengan cara mendiskreditkan segala sesuatunya hingga hanya terlihat satu orang tersebutlah yang paling benar (atau mungkin paling salah). Sifat sastra yang satu ini menggambarkan bahwa seorang pembuat sastra boleh saja memiliki pikiran buruk kepada satu pihak, namun bukan berarti sastra yang dibuat oleh orang tersebut mendiskreditkan dan hanya dapat dipakai terhadap pihak tersebut. Pembuat sastra boleh saja menjadi seorang “kiri”, “kanan”, ultrakiri, ultrakanan, tengah, atas, bawah, samping, belakang, atau apapun itulah. Namun tidak sepantasnya sastra yang dihasilkan oleh orang tersebut mendiskreditkan pihak lawan hingga berdampak kepada penggiringan opini.

Karya sastra harus dilihat sebagai objek yang mandiri dan menonjolkan karya sastra sebagai struktur verbal yang otonom dengan koherensi intern. Dalam teori ini terjalin secara jelas antara konsep-konsep kebahasaan (linguistik) dengan pengkajian karya sastra itu sendiri, baik secara metaforis maupun secara elektis.

Di sini, coba kita contohkan pada karya sastra milik Chairil Anwar. Puisi puisinya, terutama puisi romantisnya, seperti puisi berjudul “Cerita Buat Dien Tamaela” notabene ditujukan untuk satu wanita spesial bagi Chairil Anwar, Dien Tamaela. Namun dalam puisi tersebut, makna makna yang terkandung dapat berdiri sendiri, tidak terikat dan tidak mengkhususkan makna hanya pada Dien Tamaela.

****************

Nah, kalian pasti bertanya, “apasih hubungan poin pertama ini dengan peran pembangun semanfat nasionalisme?”.

Okay, jadi gini, semenjak munculnya era kebebasan berbicara utamanya melalui media sosial, dunia sastra mulai “terbuka” bagi siapapun. Setiap orang, yang memiliki keinginan untuk membuat karya sastra, dapat dengan segera menulisnya di jejaring media sosial mereka.

Nah, d isini ironisnya. Berapa banyak sastra di luar sana yang berseliweran dan memiliki makna yang sangat subjektif. Coba lihat sastra sastra yang berseliweran di timeline kalian. Sangat banyak di antaranya yang hanya mendiskreditkan satu pemikiran, mengkotakkan makna dalam sastra tersebut, hingga akhirnya berujung pada penggiringan opini. Lalu apa akibatnya?  boom, banyak orang terpengaruh pada nilai subjektif sastra tersebut.

Saya coba ambil contoh. Bagaimana jika kalian mendapati sastra yang dalam isinya di tulis bahwa “Si A adalah orang yang buruk ibarat kera hutan, si A tidak pantas hidup” blablabla. Serangkaian kata cercaan kepada satu orang dirangkai dengan majas-majas dan diksi serampangan yang anehnya bisa menyihir beberapa orang pembacanya untuk mempercayai bahwa si A adalah orang yang buruk. Nah loh, bagaimana bisa sastra (masa ini) membangun semangat nasionalisme apabila nilai yang dikandung malah membawa unsur subjektivitas dan tidak mampu berdiri sendiri? Hayo…

*******

Okay, poin kedua adalah bahwa “dalam sastra tergambar cara pandang dan pemikiran penulis melalui bahasa sebagai medium penyampainya”. Nah, disini nih poin yang paling penting.

Sama seperti yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa pembuat sastra boleh berideologi apapun, namun tetap hasil sastranya sudah seharusnya memberikan makna lurus yang tidak mendiskreditkan satu pemikiran lainnya.

Dari setiap sastra, kita akan menemui ciri khas kepengarangan, yang mana ciri khas tersebut hanya ada pada satu pengarang tersebut. Ciri khas ini menggambarkan bagaimana pembuat sastra berreaksi terhadap kondisi di sekitarnya, memberikan gambaran bagaimana pola pikir pembuat sastra tersebut.

Nah, sekali lagi, coba kita lihat sastra yang bertebaran di sekitar kita. Sastra sastra picisan (saya tidak mengatakan buruk, karena sastra tidak dapat dinilai baik buruknya, setiap sastra adalah rangkaian kata yang indah) hanya berisi muatan cinta, senja, kopi, rindu, coli, onani, dan tetek bengeknya. Tergambar sudah bukan bahwa pemikiran Indonesia dan masyarakatnya HANYA TERJEBAK DI PERCINTAAN RECEH DAN KISAH CENGENG YANG TOLOL. Di sini saya tidak menyalahkan sastra yang bermuatan cinta, karena dari dulu sastra selalu berisi cinta. Namun coba lihat sastra sekarang, hanya membentuk pribadi yang cengeng, rapuh, dan akibatnya hanya berpikiran tentang cinta melulu.

Coba kita bandingkan dengan sastra sastra era 1940 hingga 1990-an di Indonesia. Ya benar, sebagian besar selalu menggambarkan tentang percintaan, namun apakah sastra era tersebut menuntut anda untuk menikmati kopi di senja hari dan membayangkan wajah kekasih anda hingga anda onani selayaknya pengangguran? TIDAK, BIG NO. Sastra percintaan era tersebut malah memberi anda semangat untuk merubah ke arah yang lebih baik, tidak hanya terjebak utopia dan khayalan idealisme belaka. Sastra era tersebut selalu menuntut anda untuk melalukan suatu pergerakan dan membawa perubahan demi cinta anda, atau setidaknya memberikan gambaran untuk “kuat” menghadapi segala cerita hidup.

*********

The last one, bisa dibilang poin ini adalah konklusi dari poin poin sebelumnya. Disebutkan bahwa sastra selalu membawa dampak baik itu positif maupun negatif. YAPS, thats it.

Bayangkan apabila sastra era sekarang yang selalu berisi sesuatu yang mendiskreditkan dan menuntut anda untuk menjadi penghayal belaka ini terus dipertahankan. Apa akibatnya? HAHAHA, NASIONALISME HANYA TAI BELAKA. Bagaimana bisa nasionalisme terbentuk apabila pemikiran yang termuat dalam sastra adalah pemikiran pemikiran bodoh dan rendahan?

Okay, lalu bagaimana kiranya kita bisa mereformasi sastra dan membawa kembali semangat nasionalisme kita ini?

Mulailah berpikir jernih! Bawa perubahan kepada orang orang sekitarmu. Terbukti bukan bagaimana sastra mampu menggerakkan banyak orang untuk berubah ke arah yang lebih baik? Coba lihat Widji Thukul, Chairil Anwar, Albert Camus, atau contoh yang paling mengagumkan adalah bagaimana Rasulullah Muhammad S.A.W dengan sastra indahNya dari Tuhan menjadi penggerak manusia menjadi lebih baik. Tanamkan nilai nilai positif dari diri kalian sendiri. Anggap bahwa sastra adalah kunci utama hidup kalian. Terhembus di setiap nafas kalian, dan meresap dalam setiap aliran darah kalian. Lalu, sebarkan nilai positif itu hingga akhirnya tadaaa happy ending.

*******,

Well, saya rasa pembahasan kita cukup sampai di sini dulu, meskipun banyak sih yang ingin saya sampaikan perihal sastra yang harusnya membentuk nilai positif termasuk semangat kebangsaan, namun malah menjadikan pribadi yang cengeng dan membawa semangat kebangsatan.

At last but not least, see ya!!
Keep support Encyclopiracy!!!

*************

“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi. Saat menulis karya sastra, kita bisa menjelma siapapun yang kita inginkan, mencipta, membalik keadaan, membuatnya sesuka kita.”

~Helvy Tiana Rosa~

Referensi :
1) Jurnal Pendidikan, Sastra dalam pendidikan karakter pdf
2) Latar belakang sastra dan semangat berbangsa pdf
3) http://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/03/merawat-kebinekaan-melalui-bahasa-dan-sastra
4) Hasil diskusi dengan “kawan” saya, hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s